Friday, 3 May 2019

SKY CASTEL: Father Love and Mother Love


Cr. Pinterest

SKY CASTLE, can i say that this is the best drama ever?

Why? Drama ini satu-satunya yang saya rampungkan, setelah beberapa drama hanya sampai 5-10 episode saja. Sky Castle merupakan drama keluaran JTBC yang tayang mulai 23 November dan selesai pada 2 Februari, tuntas dalam 20 episode dengan rating 24.357% di Seoul dan 23.779% di Worldwide. Drama ini cukup mendapat perhatian karena mengambil cerita tentang kehidupan keluarga yang tinggal di perumahan super elite "Sky Castle" yang sangat memperhatikan status dan kedudukan sosial yang dapat diukur dari tingkat pendidikan anak dan karir suami. Tidak heran kalau para istri (ibu) mengusahakan anaknya untuk mendapat pendidikan yang berkualitas dan menunjang karir suaminya.

Berbicara tentang pendidikan anak, tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya gagal. Orangtua selalu mengusahakan anaknya untuk dapat mengenyam pendidikan bagaimanapun caranya. Usaha yang dilakukan orang tua dimulai dari memasukkan anak-anaknya mengenyam pendidikan formal (mendaftarkan anak di lembaga pendidikan fromal, seperti SD, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi). Tak jarang orangtua juga mendaftarkan anaknya untuk mengikuti tambahan pelajaran di lembaga kursus pendidikan. Hal demikian lumrah dilakukan orangtua dengan tujuan meningkatkan nilai anak. Nilai pelajaran menjadi suatu hal yang penting dan mengukur tingkat kepintaran seorang anak.

Cha Min Hyuk dan No Seung Hye, salah satu pasangan suami istri yang tinggal di Sky Castle. Mereka memiliki 1 anak perempuan dan 2 anak kembar laki-laki. Cha Min Hyuk terobsesi dengan hierarkhi piramida, menginginkan anak-anaknya berada di puncak piramida semata-mata untuk status sosial dan memberi makan egonya. Menurutnya, seseorang yang berada di puncak piramida memiliki kekuasaan yang mutlak dan tidak terbantahkan. Satu hal yang berbeda dari keluarga ini adalah anak-anaknya tidak di daftarkan pada lembaga kursus pendidikan. Cha Min Hyuk sendiri yang memberi tambahan pelajaran pada kedua anak kembarnya. Tetapi ini bukan solusi menghindari stress pada anak, akan tetapi menambah stress pada anak. Kenapa? Tingginya pressure yang diberikan Cha Min Hyuk  mempengaruhi kondisi psikis pada anak. Ruang belajar dengan dekorasi monokrom, ruangan kedap suara dan timer yang menambah suasana semakin horor. Ya horor, karena tidak memberi kenyamanan pada anak, sehingga materi dan soal-soal yang dikerjakan menguap begitu saja. Motivasi belajar dan mengerjakan soal bukan lagi "aku ingin bisa, aku ingin paham dan aku memahami" tapi "aku ga ingin dihukum oleh ayah". Cha Min Hyuk merupakan sosok yang memiliki power di keluarga dan tidak mengizinkan siapapun untuk melawan kekuasaannya. No Seung Hye, istri yang baik dan menurut pada suami. Meskipun ia merasa tertekan dengan kondisi anak-anaknya. Namun disisi lain Cha Min Hyuk adalah seorang patriarkis, seseorang yang paling berkuasa dan setiap anggota keluarga harus menyetujui apapun keputusannya. Hal ini yang menjadi alasan mengapa ia terobsesi dengan piramida.

Erich Fromm dalam The Art of Loving, cinta kebapakan adalah cinta bersyarat.Prinsipnya adalah “Aku mencintaimu karena kau memenuhi harapanku, karena kau melaksanakan kewajibanmu, karena kau mirip aku”. Hal ini sesuai dengan yang Cha Min Hyuk perlakukan kepada anaknya. Kewajiban seorang anak yang bersekolah adalah belajar, mau tidak mau, nyaman tidak nyaman, suka tidak suka maka lakukan. Ditambah dengan karakter Cha Min Hyuk sebagai sosok laki-laki patriarkis yang mana ia memiliki kuasa tertinggi, siapapun tidak diperbolehkan untuk menentangnya. Seorang ayah dan suami yang harus selalu dipatuhi dalam keadaan apapun. Nilai sekolah menjadi suatu hal yang penting dan sangat berharga dibanding kenyamanan anak-anaknya. Nilai yang tinggi berpengaruh pada status sosial di masyarakat. So, dari cerita Cha Min Hyuk ini kita tahu bahwa dalam kodrat cinta kebapakan, kepatuhan adalah kebajikan utama, sedangkan ketidakpatuhan merupakan dosa utama- dan hukumnya adalah ditariknya cinta kebapakan itu.  Cinta kebapakan yang kental di miliki oleh Cha Min Hyuk menjadikan dia seorang bapak yang keras dan menginginkan anaknya menjadi seperti yang dia inginkan.


Berbeda dengan cinta keibuan yang tanpa syarat. Apapun kondisi seorang anak, seorang ibu akan menerimanya. Cinta yang tak bersyarat itu sudah diberikan semenjaknya anaknya di kandungan. No Seung Hye-pun demikian, meskipun anaknya mendapat nilai kurang baik (jelek), tidak lantas membenci atau menyalahkan anak-anaknya. Ia tetap menerima anaknya dengan lebih memperhatikan kondisi psikologi anak. Pada titik ini, Seung Hye menyadari bahwa ia perlu untuk melawan model pembelajaran suaminya. Cinta keibuan bagi anaknya salah satunya dengan memberi rasa aman dan afeksi lebih kepada anaknya. 



Dalam diri manusia sebenarnya ada cinta kebapakan dan cinta keibuan. Bukan tidak baik cinta kebapakan itu, tapi idealnya ada keseimbangan antara cinta kebapakan dan cinta keibuan. Cha Min Hyuk adalah seseorang yang memiliki cinta kebapakan begitu kental dan No Seung Hye memiliki cinta keibuan yang tidak kalah kentalnya. Cha Min Hyuk dan No Seung Hye berada pada dua kutub yang berbeda. Ketika cinta kebapakan itu lebih dominan maka akan menjadikan seseorang keras dan tidak manusiawi. Sedangkan, jika cinta keibuan lebih dominan maka akan cenderung kehilangan pertimbangan dan mengganggu perkembangan dirinya dan orang lain. Dalam hal parenting anak, sebainya antara ayah dan ibu harus bekerjasama. Bukan berarti karena ayah adalah seorang kepala rumah tangga maka hal parenting anak keputusannya mutlak ditangan sang ayah. Dalam hal parenting, ibu juga memegang peran dalam hal keputusan untuk menyimbangkan. Di samping itu, jangan lupakan apa keinginan dan kesukaan atau hal-hal yang ingin dicapai oleh seorang anak. Memaksakan kehendak kepada anak hanya akan menambah beban mental. Oleh karena itu, antara ayah, ibu dan anak idealnya saling bekerjasama.

Referensi :
K-Drama "SKY CASTLE"
Erich Fromm, "The Art of Loving"

No comments:

Post a Comment