Tuesday, 10 December 2019

Ketika Kenyamanan Berkerja Kembali Dipertanyakan(?)




“Ya, kami adalah manusia yang memiliki kemanusian, jika anda ingin dianggap sebagai manusia maka tolong perlihatkan rasa kemanusiaan itu meski hanya sebiji zarah.” 

Sudah lama aku tidak menulis dan ini adalah keresahanku sekarang ini.

Mungkin dulu ketika membicarakan manajemen hanya dalam angan tanpa merasakan yang sebenarnya seperti. Belum merasakan benar-benar menjadi seorang buruh dan relasi kekuasaan didalamnya. Belum merasakan menjadi buruh yang membutuhkan sebuah pekerjaan untuk menopang hidup dan diatasnya ada si Borju yang memiliki modal. Dulu membicarakan ini hanya dalam awangan atau melihat fenomena yang ada di masyarakat. Sekarang? Aku buruh dan tidak berdaya.
Welcome to the jungle!! Tidak ada yang salah dengan kalimat tersebut. Setelah keluar dari dunia (pendidikan) banyak hal amazing nan menyenangkan bahkan menyedihkan sekalipun. Tapi hal ini yang membuat kita berkembang menjadi lebih baik lagi (mungkin).

Di perjalanan hidup, pada satu titik akhirnya saya menetukkan untuk bekerja pada sebuah perusahaan swasta di kota yang katanya istimewa. Disinilah pergolakan batin dimulai. Ada hal-hal yang tidak selaras antara perusahaan, pekerjaan dan aku.

Seiring berjalannya waktu, semakin merasakan perusahaan ini tidak sehat dan dengan kebijakan tambal sulam. Why? Ada kebijakan yang dibuat secara kondisional dan tanpa pemberitahuan dalam waktu yang lebih lama dari waktu pelaksanaan kebijakan kepada pekerja. Pemberitahuan kebijakan baru secara dadakan, sedadakan tahu bulat. Kalau boleh bilang, setiap perusahaan seharusnya memiliki planning kedepan bagaimana roda perusahaan akan berputar sehingga permasalahan-permasalahan perusahaan nantinya sudah memiliki gambaran solusi dan dapat dikomunikasikan dengan pekerja lebih awal.

Lalu apakah hal ini berpengaruh kepada kondisi si pekerja?

Berpengaruh dan bahkan sangat berpengaruh. Adanya kebijakan baru dengan pemberitahuan dadakan serta kurang menyerap aspirasi dari pekerja menggambarkan perusahaan hanya menjadikan pekerja sebagai alat produksi. Hal ini sama halnya perusahaan kembali pada jaman klasik, dimana yang ditekankan perusahaan kepada pekerjanya hanyalah masalah kebutuhan akan peningkatan produktivitas. Produktivitas selalu ditekan tanpa melihat bagaimana kondisi dari pekerjanya. Perusahaan enggan mengetahui bagaimana kondisi psikologis dari pekerjanya, sehingga tidak ada rasa nyaman dan aman yang diberikan perusahaan kepada pekerjanya.

Perusahaan sekarang ini sebaiknya mulai menggeser hal-hal tersebut kepada arah yang lebih memanusiakan manusia, bukan meng-alat-kan manusia. “Ya, kami adalah manusia yang memiliki kemanusian, jika anda ingin dianggap sebagai manusia maka tolong perlihatkan rasa kemanusiaan itu meski hanya sebiji zarah.” Kalau kata Kakek Elton Mayo, perusahaan harus mulai melihat sisi psikologis dari sumber daya manusia yang dimilikinya. Dimana respon motivasi dan respon emosi sari situasi kerja mejadi hal penting daripada pengaturan logis dan rasioanl dalam menetukan output kerja. Hubungan sosial dalam kelompok kerja adalah faktor penting yang mempengaruhi keuasaan kerja atas suatu pekerjaan. Hal ini menjadi keresahan awal pada saat berkerja karena merasa seperti robot yang sedang melakukan pekerjaan tanpa dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Maka jangan salahkan ketika sedang sepi pekerjaan adalah hal yang menyenangkan kerana dalam kondisi ini pekerja dapat lebih bersosialisasi dan mengenal lingkungan sekitar. Perusaan yang lebih melihat sisi kemanusian dari sumber daya manusia yang dimilikinya akan lebih memberi manfaat jangka panjang. Dengan permasalahan dan adanya kebijakan yang selalu diperbaharui, sebaiknya perusahaan lebih melihat titik kemanusiaan dan hubungan dua arah yaitu dengan melibatkan pekerja dalam pengambilan keputusan dan mendengar aspirasi dari pekerja karena hal ini nantinya akan memberi dampak positif untuk perusahaan itu sendiri. Pada dasarnya, rasa nyaman, aman dan memanusiakan manusia menjadi tonggak keberhasilan dari suatu perusahaan. Semangat dan kenyamanan kerja selaras dengan peningkatan produktivitas kerja.

No comments:

Post a Comment