![]() |
| Copy Right. news.bbc.co.uk |
Fase perkembangan HIV hingga AIDS memerlukan waktu yang lama dan tergantung dengan kondisi kekebalan tubuh masing-masing orang. Ketika membicarakan mengenai perkembangan virus HIV dalam tubuh manusia, maka erat kaitannya dengan Viral Load dan sel CD4. Viral Load merupakan jumlah virus yang berada dalam darah. Sel CD4 merupakan tipe dari lymphocyte (bagian dari sel darah putih). Jadi kalau kita ingin mengetahui perkembangan virus HIV dapat dilihat seberapa banyak jumlah CD4 dan Viral Load di dalam tubuh manusia. Ketika HIV berkembang maka akan menginfeksi dan membunuh sel CD4 T -tipe dari sel darah putih- yang menjadi kunci dalam menjaga kekebalan tubuh manusia. Efek dari infeksi HIV yaitu berkurangnya jumlah sel CD4. Jumlah CD4 pada orang dewasa berkisar pada angga 600 hingga 1.200 sel/mm3. Ketika jumlah CD4 pada orang dewasa dibawah 200 sel/mm3, maka semakin tinggi resiko penyakit opotunistik.
Viral Load merupakan jumlah virus HIV yang terkandung dalam darah, dapat diukur menggunakan HIV Ribonucleic Acid Polymerase Chain Reaction Test (Tes HIV-RNA PCR) yaitu tes yang digunakan untuk mengukur respon tubuh terhadap pengobatan Antiretroveral. Jumlah Viral Load akan semakin tinggi setelah penularan HIV primer. Pada periode waktu setelah infeksi, viral load dapat turun ketika tubuh memproduksi antibodi dan dapat meningkat kembali setelah beberapa tahun ketika jumlah CD4 turun. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa waktu inkubasi HIV itu lama. Viral load yang tinggi dapat menyebabkan resiko penularan lebih tinggi. Setelah beberapa tahun, viral load yang tinggi merupakan tanda penyakit lebih parah ditandai dengan peningkatan status dari HIV menjadi AIDS.
Oke, berikut adalah fase perkembangan HIV
SEROCONVERSION
Orang yang terkena HIV biasanya akan memproduksi antibodi dalam kurin waktu 4 hingga 6 minggu setelah terinfeksi, akan tetapi tidak menutup kemungkinan hingga 3 bulan untuk memproduksi antibodi. Periode waktu antara waktu infeksi HIV dengan hasil positif tes HIV dapat dikatakan "window period atau periode jendela". OLeh karena itu, pada periode ini rang tidak menyadari bahwa di dalam tubuhnya terdapat virus HIV.
Berbeda dengan virus lainnya, produksi antibodi bukan berarti akan memproteksi tubuh dari virus akan tetapi mengindikasi adanya infeksi. Ketika terinfeksi, tubuh akan memproduksi antibodi yang dapat diukur dengan tes laboratorium. Fase inilah disebut Seroconversion yaitu perkembangan antibodi yang dapat dideteksi pada mikroorganisme dalam serum sebagai akibat dari infeksi atau imunisasi. Beberapa orang akan mengalami penyakit, seperti demam, ruam, nyeri sendi dan pembesaran kelenjar getah bening saat fase seronconversion.
Viral Load merupakan jumlah virus HIV yang terkandung dalam darah, dapat diukur menggunakan HIV Ribonucleic Acid Polymerase Chain Reaction Test (Tes HIV-RNA PCR) yaitu tes yang digunakan untuk mengukur respon tubuh terhadap pengobatan Antiretroveral. Jumlah Viral Load akan semakin tinggi setelah penularan HIV primer. Pada periode waktu setelah infeksi, viral load dapat turun ketika tubuh memproduksi antibodi dan dapat meningkat kembali setelah beberapa tahun ketika jumlah CD4 turun. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa waktu inkubasi HIV itu lama. Viral load yang tinggi dapat menyebabkan resiko penularan lebih tinggi. Setelah beberapa tahun, viral load yang tinggi merupakan tanda penyakit lebih parah ditandai dengan peningkatan status dari HIV menjadi AIDS.
Oke, berikut adalah fase perkembangan HIV
SEROCONVERSION
Orang yang terkena HIV biasanya akan memproduksi antibodi dalam kurin waktu 4 hingga 6 minggu setelah terinfeksi, akan tetapi tidak menutup kemungkinan hingga 3 bulan untuk memproduksi antibodi. Periode waktu antara waktu infeksi HIV dengan hasil positif tes HIV dapat dikatakan "window period atau periode jendela". OLeh karena itu, pada periode ini rang tidak menyadari bahwa di dalam tubuhnya terdapat virus HIV.
Berbeda dengan virus lainnya, produksi antibodi bukan berarti akan memproteksi tubuh dari virus akan tetapi mengindikasi adanya infeksi. Ketika terinfeksi, tubuh akan memproduksi antibodi yang dapat diukur dengan tes laboratorium. Fase inilah disebut Seroconversion yaitu perkembangan antibodi yang dapat dideteksi pada mikroorganisme dalam serum sebagai akibat dari infeksi atau imunisasi. Beberapa orang akan mengalami penyakit, seperti demam, ruam, nyeri sendi dan pembesaran kelenjar getah bening saat fase seronconversion.
"Orang yang melakukan tes laboratorium dan hasilnya menunjukan HIV-negatif tetapi memiliki kebiasaan melakukan tindakan beresiko dalam waktu 3 bulan, maka orang tersebut dianjurkan untuk melakukan tes kembali pada 3 bulan mendatang karena masih ada kemungkinan terinfeksi HIV"
ASYMPTOMATIC HIV INFECTION
Kondisi dimana orang telah terinfeksi HIV tetapi terlihat sehat-sehat saja. Tidak ada gejala yang ditunjukan secara fisik. Durasi waktu periode asyimptomatic setiap orang berbeda-beda. Beberapa orang dewasa mengalami gejala lebih cepat, beberapa bulan setelah infeksi primer. Selain itu, dapat memakan waktu lebih lama hingga 15 tahun untuk mengalami gejala.
Periode pada anak yang terinfeksi melalui MTCT (dari kandungan hingga pemberian ASI) fase asymptomatic akan lebih pendek. Beberapa bayi HIV-positif akan mengalami sakit pada minggu-minggu awal setelah lahir. Dan beberapa anak mulai mengalami gejala sebelum berusia 2 tahun; beberapa dalam kondisi stabil untu beberapa tahun.
SYMPTOMATIC HIV INFECTION
Kondisi dimana orang yang terinfeksi telah menunjukan secara fisik. Sistem imun rusak dan jumlah CD4 turun dalam fase ini. Perkembangan HIV tergantung pada jenis virus dan karakteristik inang, selain itu juga tingkat kesehatan, gizi dan kekebalan tubuh masing-masing orang.
AIDS
Periode akhir dari infeksi HIV yaitu AIDS, setiap orang pada akhirnya akan mengalami fase ini. Perkembangan infeksi HIV mengakibatkan jumlah CD4 turun dan orang yang terinfeksi akan dengan mudah terkena infeksi oportunistik. Infeksi oportunistik merupakan penyakit yang disebabkan oleh kuman yang kemungkinan tidak menyebabkan penyakit pada orang sehat, tetapi akan menyebabkan penyakit bagi orang yang memiliki kekebalan tubuh lemah. Contohnya, TB (penyakit yang paling sering menyerang HIV-positif)
Orang yang hidup dengan infeksi HIV lanjut akan menderita infeksi oportunistik pada organ paru-paru, otak, mata dan organ lainnya. INfeksi oportunistik umum lainnya pada orang yang didiagnosa AIDS, yaitu Pneumocystis Carinii Pneumonia; Cryptospotidiosis;
histoplasmosis; dan
parasit lainnya, infeksi virus dan jamur, beberapa tipe kanker (seperty
Kaposi’s Sarcoma).
Pengobatan
ARV, prophylaxis (tindakan yang diambil untuk menjaga kesehatan dan mencegah
penyebaran penyakit), pengobatan infeksi oportunistik dapat membantu mempertahankan
jumlah sel CD4, menurunkan viral load dan mengulur waktu periode HIV menuju
fase symptomatoc dan AIDS.
JAUHI VIRUSNYA, BUKAN JAUHI ORANGNYA
Referensi :
- Module 1: Introduction to HIV/AIDS by Centers for Disease Control and Prevention

No comments:
Post a Comment