Thursday, 10 March 2022

Heeeyyy!! Its Okay!!

Cr. Pinterest


Its Okay to not be Okay, remind me about K-Drama yang dibintangi sama Kim Sohyun dengan cerita seorang yang terluka di masa lalu dan pada akhirnya bisa menerima kondisi. Keren si, karena ga semua orang akan mampu sadar dan menerima kondisi dirinya sendiri. 


Hidup itu nano-nano, banyak rasa. Di titik tertentu manusia bisa bertemu rasa seneng, bahagia, kecewa, sedih. Mungkin buat rasa senang bahagia, diri kita akan dengan mudah menerima karena rasa itu yang sangat disegani. Tapi tidak menutup kemungkinan merasakan sedih, kecewa, takut, dan sadar ga sadar rasa itu tidak diinginkan oleh diri apalagi untuk bisa diterima. Rasa sedih, kecewa, takut akan lebih terekam di memori manusia daripada rasa senang itu sendiri. Rasa senang cenderung mudah dilupakan dan hanya sesaat saja. 


Menurut Kubbler Rose (1970) dalam Tomb (2003), ada tahapan sampai kita menerima apa yang terjadi di diri kita. Ketika sesuatu terjadi pada diri kita, tanpa disadari reaksi awal yang muncul adalah menyangkal (denial). Biasanya kita akan mengatakan, “Ahahah Gapapa kok, ga ada apa-apa. Its Okay!”, “Ga ada perubahan apapun kok, aku ga kehilangan diriku. Yah, yes I am!”. Sebenernya ungkapan tersebut adalah suatu penyangkalan diri tidak terima dengan apa yang terjadi dengan diri sendiri karena ketidakberdayaan untuk menghadapi apa yang memang seharusnya dihadapi. Pada tahapnya, ketidakberdayaan diri berimbas pada tidak bisanya mengontrol emosi. Emosi yang sering diungkapkan adalah marah. Marah dengan apa yang terjadi dengan diri sendiri bahkan marah kepada orang lain yang sebenarnya ingin memberikan support.


Kembali pada fitrah manusia yang diberi oleh Tuhan akal dan pikiran, manusia akan mencapai satu tahap berpikir, “Oh ya kalau misalnya aku ga gini maka ga akan merasakan gitu”. Pada tahap ini, manusia sudah mau melihat dan sadar dengan apa yang terjadi pada diri. Meskipun pada akhirnya akan masuk di tahap depresi, merasa lelah dengan keadaan dan perasaan yang dialami. Tapi satu hal sampai di titik ini, manusia sudah menyadari apa yang sedang dialami dan mampu mengontrol diri. Pada akhirnya akan mampu menerima dan sadar dengan kenyataan ada yang berubah, dengan harapan kita bisa lebih self love dan bersikap lebih bijak. 


“Its Okay, to not be Okay. Kadang kita perlu merasakan dan mengikuti ritme. Kalaupun kita tersandung, menangis-pun gapapa yang penting kita bisa kontrol diri dan tau bagaimana menyembuhkan diri. Ga ada yang instant, semua butuh proses. Begitupun Mie Instant, perlu dimasak dan dibumbui dulu baru bisa kita nikmati. Dan hidup-pun demikian.”

 


No comments:

Post a Comment