Wednesday, 4 March 2020

PayLater : Madu atau Racun?





Prinsip digitalisasi saat ini sudah sangat dekat dengan kehidupan manusia. Tak terkecuali untuk urusan perekonomian. Prinsip digitalisasi di dunia eknomi saat ini bisa dilihat dari adanya sistem pembayaran PayLater. PayLater merupakan sistem pembayaran kredit yang ditawarkan tanpa perlu memiliki Kartu. Sistem transaksi Beli Sekarang Bayar Nanti (Buy Now Pay Later). Mostly, sistem pembayaran PayLater ini digunakan di aplikasi-aplikasi E-Commerce atau aplikasi dompet digital.

Adanya tingkat konsumsi tinggi namun alat perantara pemuas kebutuhan terbatas maka muncul prinsip digitalisasi pembayaran yaitu Pay Later yang bisa membantu memuaskan kebutuhan dari mulai kebutuhan belanja ini-itu hingga kebutuhan travelling sana-sini. Semua itu bisa diwujudkan dengan PayLater.

Setiap hal memiliki sisi hitam dan putih namun dalam hal ini manusia juga harus bisa melihat celahnya. Adanya PayLater bisa sangat membantu kita untuk memenuhi kebutuhan dalam situasi terpepet dan tidak memiliki finansial cukup. So, PayLater hadir sebagai ibu peri yang menawarkan solusi sangat ampuh. Atau sebagai perempuan yang memang lebih suka belanja sedang butuh suatu produk dan memang ada promo diskon namun sedang tidak ada uang yang cukup maka PayLater menjadi penolong seperti pangeran berkuda putih yang sangat ditunggu-tunggu. Dalam kondisi-kondisi ini PayLater memang menjadi penolong karena ketika melakukan transaksi tanpa harus membayar dulu.

Tapi di sisi lain PayLater dapat menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu dapat meledak tanpa kita sadari karena kita terlalu kalap dengan mudahnya sistem pembayarannya terlebih jika memiliki limit kredit PayLater besar. Transaksi apapun yang diinginkan tanpa tahu yang dibutuhkan dapat menjadi boomerang. Karena limit kredit PayLater bukan uang sebenarnya. Penggunaan pembayaran PayLater tanpa kontrol diri yang kuat akan menjadi khilaf setiap penggunanya, apalagi tanpa menghitung kemampuan finansial. Tagihan dengan bunga menumpuk dan jumlah denda yang harus dibayar akan menjadi Nightmare bagi siapapun yang menggunakan PayLater tanpa kontrol diri dan menghitung kemampuan finansial.

PayLater sangat boleh digunakan bahkan dibeberapa kondisi bisa sangat membantu. Namun sebagai manusia kita pun harus bisa menimbang mana yang menjadi kebutuhan atau semata-mata hanya keinginan. Konsep ini bisa digunakan sebagai pegangan pengguna PayLater. Di sisi lain PayLater memunculkan sifat konsumerisme di masyarakat. For me, Hiduplah secukupnya. Jika memnag butuh belilah, jika hanya ingin maka redam dulu. Bijaklah dalam memutuskan sesuatu, dalam hal belanjapun. Kita kalap, kita nanggung. Tidak mau dikejar-kejar Dept Collector kan? Aku si engga. Terimaksih

No comments:

Post a Comment